Ciletuh Geopark

Ciletuh Geopark
Hari Pendidikan Nasional 2015

Selasa, 01 November 2011

Bila Kini Kau adalah Istriku (Ataukah Kelak,Mungkin adalah Penulis...


aku masih ingat wajah itu
dari setiap apa yang pernah kita janjikan dan kita harapkan
ketika hal awali menjadi sesuatu yang teramat indah kita kenang
untuk memperbaharui segala apa yang kini terjadi
sesuatu yang biasa namun tiada terduga
mestinya kita sua semenjak dulu,atau kau lamar kau dari awal
sebelum segala sesuatu menjadi demikian rumit
adalah suatu yang kerap dapat terduga sebuah kegagalan
bukan masalah cepat atau lamanya
sebuah perjalanan dari sebuah jejak perasaan kita

kenapa beberapa dari kita mesti meragukan
kuasa cinta hingga kita lalu terlampau curiga dan berhitung
apakah cinta menjadikan kau ragu sebagaimana dulu
ketika cinta terbedakan maknanya daripada tiap orang
bukankah tiada satu pandangan tentang ini
ketika hidup menuntut banyak setiap apapun pada cobaan dirinya
seberapa jauh kita mesti percaya

bahwa cinta kerap merubah kita untuk menjadi yang lain
menjadi suatu yang ideal karena seseorang yang kita suka atau cinta
kenapa kita tak mampu untuk tetap menjadi diri kita
apakah pengorbanan harus berupa peniadaan diri subjektivitas kita dalam anonim
mengganti identitas kita pada KTP dengan mengganti nama kita dengan cinta ?

aku dan beberapa perjalanan dan rencana
ada galau dan resah pada tiap bingungku
akan setiap apa yang mesti kuhargai dari seorang perempuan
ketika aku mesti memposisikan diriku semata sebagai seorang manusia
yang mungkjin kelak tak mungkin menjadi suami yang baik
namun setidaknya aku adalah ayah yang baik untuk anak kita,akankah kamu ?



andai saja aku dapat menjadi,menjadi ayahmu,menjadi anakmu
atau suamimu dan bahkan dirimu sendiri
maka seorang lelaki laju larut dalam ketidakmungkinan
bahwa tiada hal yang sempurna dari Tuhan sekalipun
aku berjalan mencari tiap apapun bahkan hingga semua mesti henti
bertualang mencari kamu pada tiap pelukan
atau lari pada banyak terminal dan jatuh di simpangan

aku yang mabuk,aku yang tualang dengan hitamku
adalah kurasa kejantanan yang mesti kumaknai
atau perihal kejantanan lelaki,aku terlalu muda
untuk umurku yang beranjak uzur,kematangan merendahkan martabatku
bagi mereka yang terlampau gamang untuk bercinta
enyahlah dari situ mencariku pada tiap beban batin atau asamu

langkah-langkahku yang kecil ataupun sebuah percepatan pada arlojimu
adalah keterlambatan manusia pada setiap sikap pikir mereka
hingga kumaknai semua atas itu semua
aku gagal dan aku telah menjadi pada kegagalanku
kejatuhanku yang kurahap datang senantiasa
atau bahkan kesakitan terdalam atau kematianku untuk neraka
(kau tahu aku tiada undur untuk tetap menjadi apa)

apa kau ingat pandangan pertamamu,ciumanmu yang pertama,pelukan atau...
aku hanya cukup sinis untuk paham bahwa semua ada pada takdirnya
atau bila kau mau melawan kodratmu sebagai bukan aku
semua tiada kupercumakan hingga kau lalu tertoreh liar pada banyak bait
menjadi pada kebodohan pehamamanmu atas apa yang mesti kau pahami atas aku
dan kau menyatu pada tangismu yang terbahak
melarikanku pada banyak kata bual
sementara banyak lelaki merayumu
dan kau bepergian bagai kucing kegenitan

suatu hari,aku akan menyesali sebuah pernikahan
bukan semata karena kamu tapi banyak dari yang lain
semata karena aku tak pernah dapat menjadi yang terbaik
menjadi seperti ayahmu atau mantan kamu yang lain
aku bukan dia,dan aku tak mau kelak
kau campuri masa lalu dengan pelukmu yang naif
dan aku tak mau kau berkhayal lelaki lain
ketika kau mencumbuiku,meski aku mungkin begitu
(atau aku benar-benar tak mau bila kita sua dan aku bersamanya..
(atau aku tak perlu mengirimkan kau undangan..
untuk datang semata hanya karena kamu mesti berdua untuk datang)

kenapa ini mesti akan terjadi ketika lalu semua menjadi terlambat
hingga kemudian salah satu dari kita
mencoba menyapa dan memulai segala perselingkuhan
hingga aku memiliki anak kelak
dari sebuah sisa masa lalu aku harap mereka paham
bahwa kelak mereka akan alami ini atau setidaknya lebih baik dari kita
bahwa semua tiada seperti yang dapat kita harapkan
dari setiap apa yang mereka pahami dari cinta
(namun setidaknya kucatat,..
bahwa aku menjebak semua atas lebih dari sebuah persetubuhan sempurna...
jangan jadikan aku terbangun dalam sesal
bahwa aku mencumbui dia yang bukan aku
hingga selalu kuingat kamu pada tiap usai cumbuan

(atau setiap kedekatanku atas siapa yang mestinya adalah kamu...
kamu yang tiada lagi atau tanpa alamat asa..

aku tahu kelak kau ada padanya
pada tiap keluhan kegagalan pernikahan tiap insan
ketika kemudian semua tak seperti yang kita harap
merindukan siapa yang pernah ada
ketika semua lalu menjadi demikian rumit dan galau
(hingga tiap orang dari kita menghubungi siapa yang terakhir mencinta kita
atau lalu kita lalu menangis...
menyesali apa yang telah kita lakukan ataupun telah terjadi
bahwa semestinya kita tetap satu dalam kondisi sama..

bertahan pada tiap liar gelombang
kita yang kelak kandas atau karam,ah Tidak !
aku ingin anakku tak tahu
bahwa senantiasa ada perempuan lain selain siapa yang melahirkannya...
hingga mungkin ketika mereka dewasa
mereka temukan sebuah catatan di rak tua mereka
bahwa cinta telah berlangsung sedemikian lama
bahkan hingga mereka memiliki anak yang lebih pandai memaknainya
jangan biarkan mereka tahu
bahwa cinta yang terpendam lama ini menjadikan mereka kelak kesakitan
bahwa ada kalanya cinta tiada berpihak pada sebuah cipta yang mengada
hingga mereka semua paham
bahwa sebuah kesepakatan adalah hati buat mereka yang mapan
menjalaninya dengan keteguhan ataupun bahkan kesakitan dan kematian

biarkan mereka kelak paham dari banyak catatan
bahwa ayah mereka pecinta teladan
yang mencatatnya pada banyak buku harian
biar mereka kelak paham
bahwa tinta pernah bercampur pada rona kertas ataupun air mata
bahwa cinta telah mengaburkan tiap torehan kata
pada kertas sarat penyesalan
hingga tintaku habis dan ajal datang dengan cinta yang lama kusimpan
menjemputku dalam ajal keagungan dan semua tiada akhiran

hingga bibit muda cinta lain meleburkan sejarah cintaku
atas kepenulisanku atas kamu
hingga kamu (atau mereka membacanya..
aku tengah sekarat
ataupun kehabisan
adalah kamu...
yang senantiasa...

dari catatan seorang  Budi SP indrajati

Tidak ada komentar:

Posting Komentar