Ciletuh Geopark

Ciletuh Geopark
Hari Pendidikan Nasional 2015

Jumat, 17 Desember 2010

"ODE DERMAGA"

15 Agustus jam 0:53  
--hanya untuk nyai, yang telah mengubah hujan menjadi pelangi--



Jika perempuan itu telah sampai dan menitipkan pesan, katakan, aku menunggunya di depan stasiun kota ini. Tapi jika perempuan itu tak pernah sampai, kabarkan, aku akan tetap menunggunya di dermaga yang dulu kami bangun dengan cinta.

Mungkin dia masih terkenang pada mimpinya tentang perahu yang mengayun ke tepian. Tapi jangan sangka juga aku berdiri di atas karang, karena kapalku kini hampir tenggelam. Bukan karena badai atau gelombang pasang, melainkan sebab cinta yang usai dipahami.

Apa lagi yang hendak dibicarakan? Ketika anak-anak telah tertidur, setelah pertanyaannya tentang sebab tiada terjawab? Apa lagi yang hendak diselesaikan? Sementara burung-burung melipat sarangnya agar tempias tak membasahi anak-anak di bawah sayapnya?

Aku, mungkin, masih menunggunya hingga perbatasan menuju arah mata terpejam.

O, perempuan yang lahirkan anak-anak zaman! Kini engkau kembali pada rumah yang melahirkanmu. Membalik waktu berpuluh tahun, sebelum engkau mendapatiku terkapar dalam pengharapan. Siapa memaksamu untuk mengikuti kata hati? Ketika akhirnya kau putuskan untuk menyesal, tiada keraguan engkau didera kehilangan teramat lara.

Tubuh dan pikiran teramat lelah. Mata kian kabur. Benda-benda semakin jauh. Kepala memberat. Kata-kata telah patah. Adakah semesta yang tak mengajukan syarat bagi jiwa-jiwa yang tertimbun gunung batu?

O, aku ingin mabuk bersama setan-setan, iblis keparat, dan selaksa basa-basi! Ingin kutusuk jantungmu agar dendam meleleh bersama embun yang menetes satu-satu. Jika ingin kau dapati keluasan samudera pada tangan dan mata ini, tengoklah ke dalam dirimu. Niscaya akan kau temukan kesenyapan paling sunyi.

Duh, Gusti. Di mana kesungguhanMu menitipkan beban sebagaimana bahuku mampu menyangganya? Di mana kebenaran ujarMu dalam firman, tiada pernah wadah terisi melampaui garis batas?

Dan masihkah kata-kata jadi penanda? Bagiku atau bagimu, mungkin sama-sama percuma. Meski berlembar kertas dan berbotol tinta, tak cukup sudah untuk mengobati luka. Meski aku tak pernah paham, dengan apa lagi harus kutunjukkan kesetiaan?

Aku, juga engkau. Berulang bersepakat atas nama keutuhan. Demi aku, demi engkau, demi anak-anak yang pernah kita lahirkan.

Tapi biarkan anak-anak mencari jalan hidupnya. Kelak mereka akan mengetahui, pertanyaannya hari ini tentang sebab memang tak perlu ada yang menjawab. Biarlah dermaga tetap menjadi dermaga. Tapi bukan tempat berlabuh untuk kedua kali, karena perahu kita telah lama karam.***

__Wilujeng milangkala. Mugi-mugi ditangtayungan, panjang yuswa, sehat iman-islam, seueur rejekina, mangpaat sareng barokah. Amien.__

*Peluk sayang untuk anak-anakmu yang tabah.

3 komentar:

  1. akaaaaaaaaaaaaaang....
    speechless ah....

    BalasHapus
  2. Ah, itu masih tak sebanding dengan kata-kata yang tersembunyi di balik dada ini.

    Dan nyai tahu, rasa ini akan abadi.

    BalasHapus